Arsitektur di Kalimantan Barat

Posted: June 15, 2010 in Kritik Arsitektur
Tags:

Wajah atau bentuk bangunan pada suatu daerah mencerminkan bagaimana daerah tersebut sebenarnya. Sama halnya dengan Kalimantan Barat khususnya Kota Pontianak, juga dapat dinilai dari segi wujud bangunannya. Pada daerah KOREM atau Taman Alun Kapuas bangunan yang berada pada sekitar itu memiliki wujud bangunan kolonial sebab daerah tersebut merupakan tempat ( wilayah ) untuk bangsa kolonial Belanda diizinkan mendirikan bangunan pada saat pertama kali mereka datang ke kota Pontianak pada masa penjajahan. Namun hal ini tampak berbeda saat kita memasuki daerah sekitar Kelurahan Mariana, karena bentuk bangunan disana merupakan bentuk bangunan tradisional Melayu.

Terlepas dari hal-hal diatas, bangunan-bangunan di kota Pontianak pada masa ini belum memiliki wujud yang tetap karena saat ini rancangan suatu bangunan hanya mengikuti trend tanpa memikirkan kondisi lingkungan. Contohnya trend minimalis, minimalis seharusnya berfungsi untuk memaksimalkan lahan yang terbatas pada suatu bangunan agar dapat dimaksimalkan sebaik mungkin. Tetapi pada saat ini tampilan minimalis yang sedang menjamur disalah gunakan ( kesalahan persepsi ) sehingga yang dikejar malah bentuk bangunan yang “seakan” minimalis namun harus dijangkau dengan harga yang “maksimalis”. Tampilan ini juga membuat bangunan yang seharusnya memiliki bukaan yang cukup banyak (kondisi iklim di kota Pontianak cukup panas), tetapi diperkecil karena kesalahan pengertian konsep minimalis tersebut. Harusnya konsep ini diterapkan sebagaimana mestinya dalam merancang suatu bangunan.

Selain tampilan minimalis tersebut, terjadi pula hal yang sama pada perancangan ruko (rumah toko). Pada dasarnya ruko merupakan rancangan yang berfungsi agar pemilik dapat menempati ruko tersebut untuk melakukan aktivitas perdagangan, namun karena kesalahan dalam penempatan lokasi didirikannya suatu ruko malah membuat ruko hanya menjadi sebuah tempat tinggal. Hal ini terjadi di ruko yang berada dikawasan pasar puring siantan. Ruko-ruko ini juga banyak terdapat disepanjang jalan gajah mada yang memang memiliki fungsi kawasan perdagangan, namun tampilan ruko yang “monoton” membuat kawasan tersebut menjadi tidak menarik dan tidak memiliki cerminan suatu daerah/ wilayah.

Maka pada kesimpulannya bangunan pada kota Pontianak memiliki bentuk atau wujud yang tidak sesuai dengan kondisi lapangan dan juga dapat dikatakan wujud bangunan yang tidak memiliki pendirian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s