Arsitektur Modern di Pontianak ( Kalimantan Barat )

Posted: June 25, 2010 in Arsitektur, Kritik Arsitektur
Tags:

Sejarah perkembangan arsitektur modern di Kalimantan Barat, khususnya Pontianak berawal dari zaman pejajahan Belanda di nusantara. Arsitektur modern sendiri berkembang pada saat revolusi industri dalam kurun waktu 1863-1960an. Pengaruh arsitektur modern di Kota Pontianak terlihat pada bangunan Kolonial Belanda di sekitar daerah KOREM atau Alun-alun Kapuas. Gaya dalam arsitektur modern yang tampak jelas di Pontianak adalah Armsterdam School.

Armsterdam school merupakan suatu gaya arsitektur yang menjuluki bangunan sebagai “Total Work of Art”. Bangunan dengan gaya ini di Pontianak sendiri dapat dilihat pada sekolah, gereja, kantor (bekas masa penjajahan), dan rumah sakit. Armsterdam school di Kalimantan Barat, khususnya Pontianak memiliki ciri yang berbeda dengan Armsterdam school yang “asli” sehingga di Pontianak bangunan-bangunan dengan ciri tersebut disebut bangunan Kolonial Hindia Belanda. Hal tersebut dikarenakan penyesuaian gaya bangunan terhadap bahan bangunan terutama kondisi iklim dimana bangunan itu dibangun. Sehingga bangunan dengan gaya ini di Kota Pontianak memiliki bukaan yang lebar serta hampir seluruh bahan bangunan yang dipakai atau digunakan adalah kayu.

Contoh bangunan yang jelas terasa gaya ini adalah sekolah SMP BRUDER yang letaknya tepat dibelakang Gereja St. Yoseph. Bangunan tersebut hampir seluruhnya menggunakan bahan kayu pada bangunan. Semua detail yang ada dalam bangunan dikerjakan secara “konsen” mulai dari konstruksi bangunan hingga detail bangunan seperti ornamen, jendela, kursi, meja dsb.  Sehingga untuk mendapatkan hasil yang maksimal, sesuai dengan gaya asli yang dianut bangunan Kolonial Belanda yaitu Armsterdam School maka pengerjaan bangunan dilakukan oleh ahli-ahli bangunan ( tukang ) yang handal. Terlihat jelas perlunya tenaga yang handal dalam pengerjaan bangunan ini, dimana ukuran jendela yang besar dan  memiliki kisi-kisi bukanlah pekerjaan yang mudah. Selain itu jika berbicara mengenai material bangunan, dapat dilihat pada bangunan asli yang menggunakan atap sirap, lantai papan, jendela , pintu, ventilasi, dan konstruksi bangunan ( selain dinding ) menggunakan material kayu.

Jika kita melihat bangunan dari luar terlihat jelas gaya arsitektur modern tertanam pada bangunan ini. Sebab letak jendela simetri dan memiliki pengulangan pada ukuran dan jarak yang sama, serta modul grid pada ruang-ruang kelas yang bersifat linear dengan satu penghubung sirkulasi. Selain bangunan SMP Bruder dapat dilihat juga gedung yang saat ini difungsikan sebagai kantor BAPPEDA yang terletak tepat dibelakang Kantor Walikota serta kantor Walikota itu sendiri.

Terlepas dari bangunan arsitektur modern gaya Kolonial Belanda ( efek Armsterdam School ) pada saat ini kita masih dapat melihat pengaruhnya pada bangunan-bangunan yang saat ini didirikan yang memiliki ciri arsitektur modern pada bangunan ruko ( rumah toko ). Ruko dikatakan sebagai arsitektur modern karena bentuknya yang berulang ( grid ) serta dapat dibuat secara komersil ( diperbanyak ). Hal tersebut nampak jelas dengan minimnya ornamen pada bangunan ( secara eksterior maupun interior ), bentuk ruang yang lebih menekankan pada fungsi dan kegunaan ruang. Hal inilah yang menyebabkan penampilan bangunan terkesan monoton dan tidak menarik. Bangunan ruko pada masa arsitektur modern terlihat pada jalan Tanjung Pura, bentuk bangunan yang mengadopsi gaya Kolonial Belanda sangat mencerminkan gaya arsitektur modern.

Jalan Tanjung Pura tahun 1975

(diambil dari http://www.kalbar.us/showthread.php?147-foto-pontianak-tempo-doeloe)

Selain dikawasan jalan Tanjung Pura bangunan ruko juga banyak terdapat di jalan Gajahmada, jalan Diponegoro dan daerah Siantan.

Jalan Diponegoro tahun 1974

( diambil dari http://www.kalbar.us/showthread.php?147-foto-pontianak-tempo-doeloe )

Jalan Gajahmada Tahun 1971

( diambil dari http://www.kalbar.us/showthread.php?147-foto-pontianak-tempo-doeloe )

Pasar Seroja tahun 1975

( diambil dari http://www.kalbar.us/showthread.php?147-foto-pontianak-tempo-doeloe )

Dari semua data diatas dapat dikatakan Arsitektur Modern di Kalimantan Barat, khususnya Pontianak dibawa oleh bangsa Belanda dengan dasar Armsterdam School sangatlah baik karena pada masa arsitektur modern, dimana Penganut Amsterdam School, melihat bangunan sebagai sebuah “total Work of Art”. Itulah sebabnya mereka ini tidak men-desain bangunannya saja tapi sampai pada detail-detail yang kecil dari isi bangunan, seperti interior, meja kursi, kaca, lampu hias dsb.nya. Seperti dikatakan oleh Petra Timmer (dalam de Wit, 1983:123-144)

bahwa:

The Amsterdam School architects and designers saw the building as a total work of art, they extended to the interior design the same concerns and ideas that guided the architecture, including the ban on mechanical production. At the same time, they sought to link exterior and interior through the use of similar forms. (Timmer in de Wit,1983:15).

Namun pada penerapannya terhadap bangunan ruko menjadi bermasalah karena sifatnya yang monoton sehingga membawa efek membosankan.

Cipta Cakra

Comments
  1. eckohehe says:

    hmmmmmm………….mencengangkan…..layaknya orang yang buat blog ini…..keren…tapi tua……………..wkwkwkwkwkwkwkkwkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s