Periode Renaissans (Abad 15-16 M)

Posted: March 2, 2011 in Perkembangan Arsitektur
Tags:

Renaissane’ mempunyai makna “kelahiran kembali”. Periode renaissans menunjukkan zaman kelahiran kembali Eropa secara intelektual pada abad 15 M. Bermula dari Florence, Italia, yang diawali dengan penemuan kembali literatur-literatur lama. Literatur penting yang ditemukan adalah De Architectura, yang terdiri dari 10 jilid buku dan dikarang oleh Vitruvius, seorang arsitek yang mengabdi pada Kaisar Agustus di zaman Kekaisaran Romawi.

 

Gaya arsitektur pada periode ini banyak mengambil kembali gaya arsitektur Kekaisaran Romawi. Fitur-fitur yang dipakai kembali adalah: busur lengkung gaya Romawi, atap lengkung dan yang paling penting adalah 5 order Romawi: Doric, Ionic, Corinthian, Tuscan dan Composite.

Periode Renaissans sendiri dapat dibagi dua: Renaissans awal (abad 15) dan Renaissans puncak
(abad 16). Dimana secara umum dapat dikenali dari komponen-komponen arsitektur klasik dan kubah semi-elips

image       image

Istana kota adalah tempat yang dibuat nyaman sebagai tempat tinggal. Termasuk di dalamnya adalah gudang dan ruang kantor. Namun tidak dirancang sebagai tempat bertahan dari serangan musuh. Jendela lantai bawah dibuat kecil dan berteralis untuk menghindari pencarian. Jendela di lantai atas lebih besar dan lebih ber-ornamen. Dilihat dari luar, fasade lantai bawah tidak terlihat menarik. Pada Renaissans awal, jendela terdiri dari busur tunggal yang melingkupi dua bukaan jendela. Selanjutnya jendela berbentuk segi empat, dikelilingi profil dan dengan konsol dan pediment di atasnya. Pintu biasanya mempunyai kolom di kedua sisi yang menopang sebuah entablature atau pediment. Pada abad ke-16 variasi Renaissans terhadap order Romawi muncul, yaitu order yang kolosal atau besar, lebih tinggi dari 1 lantai.

image

Denah bangunan pada periode renaissans biasanya segi empat dengan fasade bangunan didekorasi dengan barisan pilaster yang diletakkan di antara jendela, seperti aturan Romawi, bagian bawah Doric, tengah Ionic, paling atas Corinthian. Terdapat juga patung-patung dan kolam di halaman depan. Interior juga terpengaruh arsitektur Romawi. Langit-langit dapat berbentuk lengkung atau datar dengan dekorasi lukisan.

Denah gereja Renaissans beragam, berbentuk basilica Romawi, salib atau terorganisasi secara sentral. Gereja bentuk Basilica mempunyai langit-langit datar (seperti di Romawi) atau berbentuk lengkung dengan kubah. Gereja dengan denah lingkaran dibuat berdasarkan kuil Romawi yang berbentuk lingkaran juga. Lingkaran juga melambangkan alam/kosmos dengan manusia sebagai pusatnya. Beberapa kubah mempunyai ukuran sangat besar sehingga menjadi landmark di tempatnya. Kubah Renaissans terdiri dari dua bagian. Bagian pertama dibuat dari batu, yang di atasnya terdapat bukaan yang disebut mata (eye). Kubah ini dilingkupi oleh kubah lain yang lebih besar. Kubah kedua ini berbentuk semi-elips dengan di puncaknya terdapat lentera. Dibuat dari kayu dan dilapisi timah atau tembaga. Baik kubah dalam atau luar (kesatu dan kedua) terletak di atas dinding melingkar dengan jendela. Sinar luar masuk ke dalam gereja melalui jendela, baik di dinding melingkar atau dari lentera di puncak kubah.

image

imageGereja St. Peter, Roma

Banyak unsur-unsur klasik yang digunakan di Renaissance yang tidak sesuai dengan maksud awalnya seperti pada masa Romawi. Hal ini terjadi karena para arsitek dan pembangun gedung hanya mengandalkan gambar dari buku untuk mengenali unsur-unsur arsitektur klasik. Sehingga pemahaman mereka terhadap arsitektur klasik juga tidak sempurna.

Contoh bangunan pada periode Renaissans

image

image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s